• Sabtu, 10 Desember 2022

Peneliti Sebut Nikotin Bukan Penyebab Gangguan Gusi terhadap Bakteri

- Selasa, 27 September 2022 | 13:22 WIB
ilustrasi - Peneliti Sebut Nikotin Bukan Penyebab Gangguan Gusi terhadap Bakteri. (FREEPIK.COM)
ilustrasi - Peneliti Sebut Nikotin Bukan Penyebab Gangguan Gusi terhadap Bakteri. (FREEPIK.COM)

KETIKNEWS.ID,-- Peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung menemukan bahwa nikotin bukanlah penyebab gangguan pertahanan gusi terhadap bakteri.

Penelitian tersebut dilakukan dalam tajuk “Respon Gusi Pada Pengguna Vape Saat Mengalami Peradangan Gusi (Gingivitas Experimental)".

Salah satu peneliti, Amaliya, menjelaskan penelitian klinis tersebut digelar untuk mengetahui sejauh mana produk tembakau alternatif, yang diklaim memiliki risiko lebih rendah daripada rokok, memiliki dampak pertahanan gusi terhadap bakteri plak gigi pada pengguna vape dibandingkan gusi para perokok yang tidak beralih.

Baca Juga: PDGI: Jumlah Dokter Gigi Spesialis di Indonesia Masih Kurang

“Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pengguna vape yang telah berhenti dari merokok menunjukkan perbaikan kualitas gusi yang dibuktikan dengan tingkat peradangan dan pendarahan gusi yang sama seperti yang dialami oleh non-perokok. Artinya, kondisi pertahanan gusi pengguna vape telah kembali normal,” ujar Amaliya dalam paparannya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (27/9).

Lebih lanjut ia meneruskan nikotin selama ini dianggap sebagai penyebab gangguan pertahanan gusi dengan ditandai oleh penyempitan pembuluh darah pada gusi. Tetapi pada penelitian terlihat bahwa pengguna vape dengan cairan e-liquid yang mengandung nikotin tidak memperlihatkan gangguan pertahanan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan (preliminary study), hal itu menunjukkan nikotin bukan penyebab utama penyempitan pembuluh darah pada gusi, serta pertahanan gusi pengguna vape hampir menyerupai kondisi gusi pada non-perokok.

Baca Juga: Perokok Anak Masih Banyak, Kemenkes Minta Revisi PP Tembakau Diperlukan

“Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh kandungan lain dari rokok, bukan nikotin sehingga perlu diteliti lebih lanjut,” tegas Amaliya.

Penelitian klinis yang dilakukan Amaliya, Agus Susanto, serta Jimmy Gunawan itu melibatkan 15 responden berusia 18-55 tahun yang dibagi ke dalam tiga kelompok dengan distribusi gender tidak merata. Kelompok pertama adalah perokok dengan masa konsumsi rokok minimal satu tahun.

Halaman:

Editor: Riedha Adriyana

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hey Cewek! Intip 5 Cara Ini Agar Siklus Haid Teratur

Selasa, 15 November 2022 | 13:53 WIB
X