Para Ulama Dan Komunitas Pesantren Minta Pemdaprov Evaluasi Rumah Tahfidz

- Selasa, 21 Desember 2021 | 14:56 WIB
 Ulama/ Kiyai meminta pemerintah mengevaluasi rumah -rumah tahfidz yang mengatasnamakan pesantren (Pemprop jabar)
Ulama/ Kiyai meminta pemerintah mengevaluasi rumah -rumah tahfidz yang mengatasnamakan pesantren (Pemprop jabar)

KETIKNEWS.ID,-- Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, mengungkap sejumlah dorongan dan masukan dari para ulama/ kiyai Se- Jawa Barat, yang berhimpun di Gedung Sate Bandung, pada Jumat (17/12) kemarin.

Salah satunya, Pemda provinsi Jabar, dengan Dewan Pengawas Pesantren (DPP) yang akan dibentuk dalam Majlis Masyayikh, dapat juga mengevaluasi rumah- rumah tahfidz yang berdiri di Jabar.

Bahwa atas penuturan beberapa undangan yang hadir, diketahui terdapat rumah tahfidz yang sangat kurang muatan pelajaran keagamaannya. Adapun yang dilakukan benar- benar hanya menghafal Al-Qur’an. Padahal materi keagamaan apalagi 12 fan ilmu secara umum tetap harus disampaikan kepada santri, sebagai materi yang patut dipahami. Maka evaluasi diperlukan guna meluruskan sehingga kualitas pendidikan agama di Jabar terjaga, dan bahkan menjadi lebih baik lagi.

“Mereka (Ulama/ Kiyai) juga meminta pemerintah mengevaluasi rumah -rumah tahfidz yang mengatasnamakan pesantren, tapi informasi para kiyai tidak belajar ilmu yang dipelajari di pesantren yang 12 pan, hanya ‘nalar’ (menghafal) Qur’an, tidak diberi pelajaran tentang fiqih, tata cara solat, dan lainnya, karena menurut mereka rumah tahfid dan pesantren qiroat berbeda,” ungkap Pak Uu, pada Sabtu (18/12/2021).

Pak Uu– sapaan Uu Ruzhanul– menyebut bahwa Pesantren Qiroat pada umumnya pun mempelajari tata membaca Al-Qur’an, tapi tetap tidak mengabaikan materi pembelajaran lain yang berdasar pada 12 fan ilmu agama. Namun ilmu Qiroat adalah spesialisasi pesantren tersebut.

“Kalau dulu Pesantren Qiroat mempelajari tata cara membaca Al-Qur’an dengan lagam dan gaya, teknik dan tajwid, tetapi tidak mengabaikan pelajaran- pelajaran pesantren baik fiqih, tasawuf, ilmu nahwu sorof tapi yang dibesarkan tata cara Qiroah,” ucap Panglima Santri Jabar.

“Tetapi menurut para kiyai banyak yang mengatas namakan pesantren di dalamnya biasanya sekolah tetapi hanya menghafal Al-Qur’an tanpa belajar tata cara ibadah terkadang Kiyai -nya pun tidak jelas,” tutur Pak Uu.

Sehingga dalam pertemuan di Gedung Sate kemarin, Pak Uu menyebut para ulama/ kiyai minta Pemda Provinsi Jabar untuk mengevaluasi rumah -rumah tahfid yang disinyalir dianggap bukan pesantren seutuhnya. Sehingga seyogyanya perlu adanya klasifikasi yang lebih jelas lagi sebagai pembeda dengan pesantren sesungguhnya. Ini diperlukan agar masyarakat tidak keliru saat ingin mempercayakan anaknya untuk belajar di lembaga pendidikan agama.

Pun begitu, Pak Uu pun tetap meyakini tidak semua rumah Tahfid demikian. Tentu masih ada pesantren tahfidz yang memberi pendidikan terbaik kepada para murid atau santrinya. Karenanya, yang lebih diutamakan adalah evaluasi, guna pengukuran kualitas belajar, dan goal yang diharapkan para santri.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Tags

Terkini

Pejabat vs Legenda Bulu Tangkis di Porseni NU

Sabtu, 21 Januari 2023 | 16:50 WIB

Terpopuler

X