• Rabu, 10 Agustus 2022

Kementan Siapkan Strategi Antisipasi Dampak La Nina

- Kamis, 30 Desember 2021 | 15:30 WIB
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo

KETIKNEWS.ID.--Memasuki musim penghujan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan curah hujan mengalami peningkatan pada November-Desember 2021, dan mencapai puncaknya pada Januari- Februari 2022 terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan, berkisar antara 20 - 70% di atas normalnya.

La Nina tahun ini diprediksikan memiliki dampak yang relatif sama seperti tahun sebelumnya. Antisipasi terus dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengamankan target luas tanam padi seluas 8,3 juta ha melalui deteksi dini agar dapat ditentukan langkah operasional penanganannya.

Baca Juga: Pelepasliaran Burung Curik Bali Kembali Dilaksanakan Balai Taman Nasional Bali Barat

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengingatkan adaptasi dan mitigasi perubahan Iklim mengingat Indonesia adalah negara terbesar ke-4 dunia. Oleh karena itu, tanggung jawab dan tantangannya pun juga besar.

"Kita belum selesai menghadapi tantangan covid-19 yang masih terjadi sampai hari ini dan kita dihadapkan juga dengan emisi gas, efek rumah kaca dan persoalan lingkungan. Ingat, perekonomian dunia porak poranda selama dua tahun, termasuk Indonesia. Namun yang mampu bertahan adalah sektor pertanian," ungkapnya.

Lebih lanjut Syahrul menyampaikan bahwa dalam kondisi dan situasi apa pun, pertanian harus tetap berproduksi. Ia mencontohkan, negara-negara yang mengalami 4 musim, mereka kini tengah mengalami kesulitan dalam hal produksi pangan.

Baca Juga: Kapolri: Layani dan Lindungi, Serta Perhatikan Rasa Keadilan Masyarakat

Mengenai adanya ancaman La Nina, Mentan mengharapkan kepada Balingtan untuk membuat rekomendasi teknologi pertanian yang tepat.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Panga, Kementan Suwandi menyebutkan untuk mengantisipasi dampak La Nina perlu dilakukan koordinasi lintas sektoral terkait pengelolaan sumber daya air dan pengurangan risiko bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung ataupun terjadinya badai tropis) yang berada di wilayah rawan terdampak La-Nina.

“Sektor pertanian memang paling rawan terkena dampak La Nina," ujarnya. Namun, menyikapi hal ini Kementan berupaya untuk meminimalisir sebagaimana konsepnya Pak Menteri (Syahrul Yasin Limpo), setiap puso harus dikompensasi di tempat lain. Juga setelah banjir selesai harus tanam lagi,” ujar Suwandi.

Editor: Usamah Kustiawan

Sumber: pertanian.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Imbas Blokir Paypal Cs, Kominfo akan Digugat

Senin, 8 Agustus 2022 | 17:44 WIB

Doni Salmanan Tipu 25.000 Orang untuk Daftar Quotex

Kamis, 4 Agustus 2022 | 15:17 WIB

7 Filosofi Logo HUT ke-77 RI 17 Agustus 2022

Rabu, 3 Agustus 2022 | 18:54 WIB
X