• Senin, 23 Mei 2022

Menelusuri Jejak Tradisi Santiago, Tradisi Berziarah ke Makam Para Sultan-Sultan Buton

- Jumat, 24 Desember 2021 | 14:58 WIB
Iring-iringan Santiago terdiri dari pasukan inti kesultanan Buton  (rizalmalaka23)
Iring-iringan Santiago terdiri dari pasukan inti kesultanan Buton (rizalmalaka23)

KETIKNEWS,ID,-- Santiago merupakan tradisi berziarah ke makam para Sultan-Sultan Buton yang ada di dalam Benteng Keraton dan sekitarnya. Di era Kesultanan Buton dilaksanakan pada tanggal 2 Syawal setelah Sholat Isya hingga menjelang Sholat Subuh yang turut dimeriahkan oleh pejabat kesultanan dan masyarakat.

Karena begitu ramai dan meriahnya kegiatan yang berlangsung di hari ke-2 lebaran Idul Fitri ini, maka sering disebut dengan raraea malo, yang berarti berlebaran di malam hari. Di era pendudukan Jepang karena keadaan yang tidak memungkinkan, maka pemerintah Kesultanan Buton mengadakan Santiago di pagi hari tanggal 2 Syawal hingga sore menjelang malam.

Tradisi Santiago (rizalmalaka23)

Iring-iringan Santiago terdiri dari pasukan inti kesultanan Buton yang disebut dengan kompanyia sejumlah 11 regu yang dilengkapi dengan tambur (tamburu) dan bendera (tombi). Selain kompanyia, santiago dilengkapi dengan Salawatu, pau karatasi (payung kertas kesultanan), para Bonto yinunca (menteri-menteri yang bertugas di istana), para prajurit dan para pejabat kesultanan Buton lainnya. Pada prosesi Santiago ini ikut serta 2 (dua) orang moji (aparat Masjid Agung Keraton) untuk memimpin doa.

Baca Juga: Jejak Gamelan Di Indonesia, UNESCO Menetapkan Gamelan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Salawatu yang merupakan seorang perempuan muda yang mengenakan pakaian kombo memegang kabubusi (air yang diberi wewangian berupa jeruk purut dan kembang kamboja) yang digunakan untuk menyiram makam Sultan. Salawatu ini dipayungi oleh kenipau (pemegang payung kesultanan) sebagai bentuk penghormatan akan jasa-jasa para Sultan yang pernah memimpin Buton. Setelah moji membaca doa maka akan dilakukan penyiraman makam Sultan.

Tradisi masarakat Budton (rizalmalaka23)

Iring-iringan kompanyia akan memainkan tari galangi di depan kamali (istana Sultan), Masigi Ogena (Masjid Agung Keraton Buton), Baruga dan setiap makam Sultan sebagai bentuk penghormatan terhadap para Sultan yang telah mangkat

Baca Juga: Batu Congklak, Situs Menyimpan Sejarah Di Sukabumi

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Tags

Terkini

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB

Sejarah Ritual Ngalak Air Dalam Pemindahan IKN

Senin, 14 Maret 2022 | 11:08 WIB

Sejarah Hari Musik Nasional 2022

Rabu, 9 Maret 2022 | 14:10 WIB
X