• Selasa, 16 Agustus 2022

Sakral, Upacara Hindu di Bali Berdasarkan Itungan Matahari dan Bulan

- Kamis, 13 Januari 2022 | 17:14 WIB
Upacara Hindu di Bali Berdasarkan Itungan Matahari dan Bulan (Dok.IG@komang_andika)
Upacara Hindu di Bali Berdasarkan Itungan Matahari dan Bulan (Dok.IG@komang_andika)

KETIKNEWS.ID,-- Lontar Sundarigama merupakan lontar yang berisi tuntunan atau tata cara pelaksanaan upacara dalam agama Hindu. Lontar ini dipakai sebagai rujukan utama dalam kegiatan ritual di Bali.

Kata Sundarigama berasal dari kata sunar yang berarti cahaya terang atau sesuluh, ri berarti siddi atau kesempurnaan, sundari berarti mata air, dan gama berarti pegangan hidup. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa Lontar Sundarigama adalah kitab agama yang memberikan cahaya, sesuluh, tuntunan pelaksanaan upacara/ritual agama untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Baca Juga: Tuan Rumah KTT G20, Erick Thohir Menteri BUMN Akan Terus Mengawal Budaya Bali

Dalam lontar ini terdapat banyak informasi mengenai hari suci atau penting dan pelaksanaan upakara atau upacaranya di Bali berdasarkan matahari dan bulan. Berikut ini 6 jenis upacara Hindu di Bali berdasarkan matahari dan bulan.

1. Candra Grahana atau gerhana bulan

Candra Grahana atau gerhana bulan (Dok.IG@ilhamtaw)

Saat gerhana bulan, diceritakan bahwa Sang Hyang Ratih diterkam oleh Sang Kala Rahu. Dalam keadaan ini, seluruh rohaniawan melakukan upacara bulan kepangan dengan maksud untuk menyempurnakan kembali wujud Sang Hyang Ratih.

Upakara atau banten yang diperlukan adalah canang wangi-wangi dan raka-raka, bubur biaung serta panek putih kuning secukupnya, dan puspa wangi. Setiap umat Hindu di Bali wajib melakukan upacara pemujaan kepada Sang Hyang Ratih di halaman rumah. Sebulan setelah terjadinya gerhana bulan, mereka tidak diperbolehkan melakukan upacara yadnya baik Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya.

2. Surya Grahana atau gerhana matahari

Surya Grahana atau gerhana matahari (Dok.IG@instagujaeat_)

Saat gerhana matahari, diceritakan Sang Hyang Surya kepangan (Dimakan) oleh Sang Kala Rahu. Untuk upacara dan sarananya sama dengan seperti pada saat gerhana bulan, namun yang dipuja di sini adalah Sang Hyang Surya. Setahun setelah terjadinya gerhana matahari, umat Hindu di Bali tidak diperbolehkan melakukan segala yadnya angayu-ayu.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Watak Tokoh Pandawa 5 dalam Kisah Pewayangan

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:17 WIB

Tradisi Tujuh Likur dan Pintu Gerbang Lingga

Rabu, 27 April 2022 | 13:35 WIB

Pekan Seni dan Budaya Korea Bersama LRT Jakarta

Rabu, 27 April 2022 | 10:09 WIB
X