• Senin, 23 Mei 2022

Jejak Kesenian Tayub Pada Masa kerajaan Demak

- Jumat, 14 Januari 2022 | 15:28 WIB
 Kesenian Tayub (Dok,IG@utomoteguh)
Kesenian Tayub (Dok,IG@utomoteguh)

KETIKNEWS.ID,-- Kesenian tayub berasal dari kerajaan Jawa Kuna, pada hakikatnya merupakan bagian dari rangkaian upacara yang bersifat religius yaitu tujuannya untuk memohon keselamatan pada Tuhan juga sebagai ucapan rasa syukur.

Kata tayub berasal dari kata ’tata’ yang berarti teratur dan ’guyub ’ yang berarti bersatu atau rukun. Dengan demikian, tayub berarti suatu bentuk tari yang ditata dengan teratur sehingga menimbulkan kerukunan atau bersatu padu. Memang dalam tari tayub penuh dengan tatanan dan aturan, baik gerak tarian maupun pelaksanaannya, dan tari-tarian tersebut penuh guyub. Tari Tayub dibedakan menjadi 3 bagian, yakni Tayub alus, gagah, dan gecul.

Baca Juga: Pertunjukan Seni Budaya Tari Kecak Garuda Wisnu Kencana Rayakan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022

Pada zaman Singasari, yaitu saat Tunggul Ametung menjadi raja, tari Tayub berfungsi sebagai acara karesmen, yaitu acara yang dilaksanakan sesudah upacara penobatan. Biasanya raja menari bersama ledhek, tradisi semacam itu berlaku pada zaman Majapahit.

Kesenian tayub berasal dari kerajaan Jawa Kuno (Dok,IG@utomoteguh)

Namun pada masa kerajaan Demak, acara ini ditiadakan. Mulai berdirinya kerajaan Mataram Baru yaitu zaman raja Sultan Agung, tayub digali dan dipakai lagi sebagai bagian tradisi jumenengan di keraton, tarian ini dilaksanakan secara turun temurun sampai keraton Surakarta Hadiningrat. Para penari wanitanya disebut dedungik sontrang. Oleh Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara I atau lebih populer dipanggil Pangeran Samber Nyawa, tayub dijadikan kesenian untuk menghibur para pasukan.

Baca Juga: Bian Lian, Seni Tari Topeng Tiongkok yang Dulu Disembunyikan

Fungsi tayub yang semula sebagai acara jumenengan raja bergeser menjadi tari untuk penghormatan tamu agung. Selanjutnya mengalami perkembangan yaitu berfungsi sebagai rangkaian upacara keselamatan atau syukuran bagi pejabat yang akan mengemban tugas baru. Akhir-akhir ini fungsinya cenderung ke tari pergaulan. Tari pergaulan ini pada umumnya bersifat hiburan atau untuk kesenangan belaka.

Sejak abad XX, tayub sering dilombakan untuk tujuan pelestarian kesenian Jawa. Kesenjan ini juga diminati kaum bangsawan atau kaum elite ketika menggelar hajatan. Para penari tayub yang cukup terkenal adalah Nyi Pantes, Nyi Den Sri, Nyi Sukarini, Nyi Menik, Nyi Kamini, Nyi Suwarni, dan Nyi Tumini. Penari-penari itu berasal dari Solo.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Seni budaya ku

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB

Sejarah Ritual Ngalak Air Dalam Pemindahan IKN

Senin, 14 Maret 2022 | 11:08 WIB

Sejarah Hari Musik Nasional 2022

Rabu, 9 Maret 2022 | 14:10 WIB
X