• Rabu, 10 Agustus 2022

Lewat seni Bangreng Sunan Gunung Jati Mengislamkan Masyarakat Sumedang

- Jumat, 28 Januari 2022 | 15:07 WIB
Dalam proses penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati dan utusannya melakukan pendekatan dengan dakwah yang diselingi dengan kesenian. (Dok. Kacapaesan)
Dalam proses penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati dan utusannya melakukan pendekatan dengan dakwah yang diselingi dengan kesenian. (Dok. Kacapaesan)

KETIKNEWS.ID,-- secara Global beberapa kesenian yang terdapat di tatar sunda merupakan pengembangan dari kesenian - kesenian yang telah ada sebelumnya. Hal ini tentunya semakin memperkaya khasanah budaya sunda dengan adanya perubahan di setiap bentuknya. Sebelum Sunan Gunung Jati mengislamkan beberapa daerah di Jawa Barat, masyarakat Sumadang masih menganut kepercayaan hinduisme. Untuk menghilangkan kepercayaan tersebut, Sunan Gunung Jati mengutus empat orang, satu diantaranya bernama Eyang Wangsakusmah.

Baca Juga: Kesenian Gondang Salah Satu Kekayaan Seni di kawasan Geopark Ciletuh

Dalam proses penyebaran agama Islam, Sunan Gunung Jati dan utusannya melakukan pendekatan dengan dakwah yang diselingi dengan kesenian. Sarana yang digunakan adalah Terbang. Terbang dibuat dari sisa-sisa kayu yang digunakan dalam pembangunan masjid.

Baca Juga: LSPR Kerjasama dengan New York Film Academy, Memajukan Bidang komunikasi dan seni murni

Pada abad XV pertunjukan seni Terbang belum menggunakan kendang. Terbang yang digunakan berjumlah empat, disesuaikan dengan jumlah utusan Sunan Gunung Jati. Memasuki abad XVII Seni Terebang mengalami perkembangan. Kesenian ini dipentaskan pada acara-acara keagamaan seperti mauludan, rajaban, dan hari raya Islam. Perkembangan berikutnya seni Terebang dipentaskan pada acara kenduri, sunatan, dan acara-acara lainnya.

Ilustrasi, kesenian bangreng (Dok. Kacapaesan)

Seiring perkembangan waktu, seni Terbang mengalami perkembangan, namanya berubah menjadi gembyung. Perubahan nama tersebut juga diikuti oleh perubahan alat pengiringnya seperti kulanter, goong dengan kempul, kecrek, dan terompet. Begitu pula dengan jumlah pemain dari 4 orang menjadi tujuh hingga delapan orang. Namun kesenian Gembyung hanya bertahan 10 tahun.

Baca Juga: Seni Burcek, Kolaborasi Burdah Islam dan Hindu dalam Semangat Toleransi Beragama

Nama Gembyung kemudian berubah menjadi Bangreng. Bangreng merupakan kependekan dari Terbang dan Ronggeng, yaitu seni Terbang yang menggunakan Ronggeng. (Ronggeng adalah wanita yang menjadi juru sekar/menyanyi). Bangreng adalah jenis kesenian terbang yang menggunakan ronggeng, yaitu wanita yang menjadi juru sekar/penyanyi. Jenis kesenian ini ada di Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Beberapa Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:31 WIB

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB
X