• Rabu, 10 Agustus 2022

Makna di Balik Prosesi Adat Tradisi Suku Batak Dalam Penyambutan Presiden di Toba

- Kamis, 3 Februari 2022 | 15:14 WIB
Prosesi Adat Tradisi Suku Batak Dalam Penyambutan Presiden (Dok.indonesia.pusaka)
Prosesi Adat Tradisi Suku Batak Dalam Penyambutan Presiden (Dok.indonesia.pusaka)


KETIKNEWS.ID,-- "Bhineka Tunggal Ika" Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua. Itulah semboyan yang dipegang kuat oleh bangsa Indonesia. Semboyan itu menggambarkan bahwa meskipun bangsa Indonesia memiliki beragam budaya, suku bangsa, ras, bahasa, dan agama, tetapi bangsa ini tetap memegang erat prinsip persatuan dan kesatuan.

Kehadiran Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja di Provinsi Sumatera Utara di sambut dengan prosesi adat tradisi suku Batak, pada Rabu, 2/2/2022. Prosesi tersebut saat Presiden Jokowi hendak menyeberang dari Pelabuhan Ajibata, Kabupaten Toba, ke Pelabuhan Ambarita, Kabupaten Samosir.

Baca Juga: Perjalanan seniman Ukir Gorga Dari Suku Batak Sumatera Utara

Sebelum menaiki kapal feri, Presiden Jokowi tampak diberikan kain ulos yang diselempangkan di pundak kanan Presiden. Ketua 1 Lembaga Adat Dalihan Natolu Kabupaten Toba, Jonang M.P. Sitorus, menyebut bahwa ulos yang diberikan adalah sebagai pertanda penyambutan yang sangat mendasar dari rakyat kepada pemimpinnya.

Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja di Provinsi Sumatera Utara di sambut dengan prosesi adat tradisi suku Batak (Dok.indonesia.pusaka)

“Satu helai lembar yang bernama Ulos Pinussaan. Ulos Pinussaan itu artinya dalah ulos pembungkus berkat, agar Bapak Presiden diberkati Tuhan dalam memimpin bangsa Indonesia dan tetap menjalankan roda pemerintahan Indonesia tetap diberkati Tuhan, diberi kesehatan, diberi nikmat,” jelasnya.

“Ulos itu hanya bisa dipakai orang yang sudah punya cucu. Kami tahu Bapak Presiden sudah diberkati Tuhan dengan cucu, maka Bapak Presiden sudah berhak memakai Ulos Pinussaan itu,” tambahnya.

Baca Juga: Makam Raja Sakti Berambut Panjang Dan Gimbal, Dari Suku Batak

Setelah kain ulos diberikan, prosesi adat dilanjutkan dengan penaburan beras. Menurut Jonang, prosesi ini memiliki makna meminta berkat kepada Tuhan dan diharapkan berkat tersebut datang kepada tamu yang datang ke tanah Batak.

“Itu adalah sebuah prosesi penyambutan setelah ulos itu diberikan, maka beras itu ditaburkan ke atas, yaitu meminta berkat dari Tuhan dan sebagaimana beras itu beramai-ramai turun ke bumi setelah ditaburkan ke atas, seperti itulah ramainya berkat itu kepada tamu yang datang ke tanah Batak,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: presidenri.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:31 WIB
X