• Rabu, 10 Agustus 2022

Kisah Huta Siallagan, Pada Zaman Dulu di kenal kampung kanibal

- Kamis, 3 Februari 2022 | 20:33 WIB
Huta Siallagan berarti Kampung Siallagan dalam bahasa Batak. (Dok.paralong_along)
Huta Siallagan berarti Kampung Siallagan dalam bahasa Batak. (Dok.paralong_along)

KETIKNEW.ID,-- Huta Siallagan berarti Kampung Siallagan dalam bahasa Batak. Siallagan sendiri diambil dari nama Raja Laga Siallagan yang dahulu membangun perkampungan tersebut dan merupakan garis keturunan suku Batak asli.

Huta Siallagan terletah di Pulau Samosir, pulau cantik tepat di tengah Danau Toba. Huta sendiri artinya kampung, dan Siallagan adalah nama dari Raja Siallagan yang merupakan pemimpin dari marga Siallagan. Beliau lah yang mendirikan kampung ini ratusan tahun yang lalu pada masa pemerintahan Raja Laga Siallagan.

Baca Juga: Menparekraf Luncurkan Program Pendampingan Desa Wisata, Ekonomi dan Lapangan Kerja

Terletak di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, kampung seluas 2.400 meter persegi ini dikelilingi oleh tembok batu licin setinggi 1,5 hingga 2 meter. Pada masanya, tembok ini juga dilengkapi oleh benteng bambu tajam yang berfungsi untuk melindungi kampung dari satwa liar dan serangan lainnya.

Siallagan sendiri diambil dari nama Raja Laga Siallagan yang dahulu membangun perkampungan tersebut dan merupakan garis keturunan suku Batak asli. (Dok.paralong_along)

Huta Siallagan disebut sebagai kampung kanibal karena pada zamannya, penjahat berat akan dijatuhi hukuman potong kepala. Setelah dipotong, konon jantung dan hati penjahat tersebut nantinya dimakan oleh sang raja atau tetua adat lainnya untuk menambah kesaktian. Meski demikian, praktek ini sudah tidak lagi dilakukan sejak kurang lebih dua abad yang lalu. Ya, sudah tidak ada lagi sejak 200 tahun lalu.

Baca Juga: Dorong Pemulihan Sektor Parekraf, Sandiaga Uno Serahkan Bantuan Peduli Pengusaha Bagi Seniman di Bali

Wika Wonderer berminat untuk mengunjungi kampung ini, Huta Siallagan dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari kawasan wisata Tuktuk Siadong dengan waktu tempuh hanya 15-20 menit.

Ketika Wonderer masuk, kamu bakalan disambut dengan rumah adat Batak yang berbaris rapi dengan berbagai macam warna mulai dari hitam, putih, serta merah. Rumah-rumah ini disebut sebagai rumah Bolon dan rumah Sopo. Masing-masing rumah yang berbentuk rumah panggung tersebut dihiasi oleh aksesoris dan ornamen yang unik berupa topeng dan patung.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Beberapa Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:31 WIB

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB
X