• Selasa, 29 November 2022

Seni Alu Katentong Dalam Masyarakat MinangKabau

- Rabu, 23 Februari 2022 | 17:06 WIB
Cara untuk merayakan panen padi dengan membuat dan memainkan kesenian bernama Alu Katentong. (Dok.elsasoeharjanti)
Cara untuk merayakan panen padi dengan membuat dan memainkan kesenian bernama Alu Katentong. (Dok.elsasoeharjanti)

KETIKNEWS.ID,-- Dalam karya lagu Iwan Fals dalam lirik lagu yang berisi menceritkan tentang keriangan saat suasana panen padi tiba, Di zaman dahulu berbagai adat tradisi untuk merayakan pesta panen padi.

Di tanah Minang ada salah satu cara untuk merayakan panen padi dengan membuat dan memainkan kesenian bernama Alu Katentong. Alu Katentong, merupakan seni musik dengan memanfaatkan alu dan lesung sebagai media penumbuk padi merupakan salah satu tradisi kesenian Minangkabau yang mulai pudar. Alu katentong ini berasal dari Negri Padang laweh Kabupaten Tanah datar. Nagari ini terletak di kaki Gunung Merapi Sumatera Barat.

Baca Juga: Dedikasi Seni Wayang Golek di Tanah Pasundan

Alu dalam bahasa minangkabau dikenal dengan kayu penumbuk padi, sedangkan wadah tempat mengupas kulit padi menjadi belas dinamakan dengan lesung. Lesung sendiri dibuat dari batu kali berbentuk bundar dengan cekungan berupa kerucut ditengahnya. Diameter lesung bervariasi mulai dari 40 cm sampai dengan 70 cm dan tertanam di tanah atau bersifat permanen.

Fungsi lesung mulai ditinggalkan bahkan saat ini sudah jarang sekali masyarakat minangkabau mengunakan lesung (Dok.jhoparianto)

Disamping itu, lesung juga terbuat dari kayu keras berupa persegi panjang. Lesung terbuat dari kayu ini bersifat mobile, atau dapat dipindah tempatkan. Tujuannya tentu saja untuk meletakan padi yang akan ditumbuk. Selain untuk menumbuk padi lesung juga dipakai untuk menumbuk kopi. Biasanya setiap rumah gadang mepunyai lesung dihalamannya. Biasanya lesung terletak berdekatan rangkiang yaitu tempat lumbung padi.

Baca Juga: Pertunjukan 'Tabib Suci', Butet Kartaredjasa Tantang Mentri BUMN Seni Pertunjukan Harus Bangkit

Seiring perkembngan zaman ditemukan kincir air sebagai alat penumbuk padi, fungsi lesung mulai ditinggalkan bahkan saat ini sudah jarang sekali masyarakat minangkabau mengunakan lesung sebagai alat penumbuk padi. Hanya pada saat tertentu pada masyarakat pedesaan lesung digunakan untuk menumbuk kopi dan itupun tidak banyak.

Baca Juga: Mandalika Street Fashion Carnival, Sambut Gelaran Budaya Bau Nyale

Menurunnya pengunaan lesung berpengaruh pada keberadaan kesenian alu katentong. Karena ada lesung dan alu tentu ada kesenian alu katentong. Alu katentong muncul dari keceriaan kaum hawa atau perempuan minangkabau dalam menumbuk padi. Diduga juga alu katentong muncul sebagai pengusir lelah dan bosan saat menumbuk padi.

Alu katentong bagi msyarakat merupakan bentuk ungkapan rasa kegembiraan para perempuan pada saat panen padi datang. Pukulan-pukulan alu di permukaan lesung menghasilkan irama yang mempesona. Dalam satu lesung ada beberapa perempuan memukul lesung sehingga menimbukan bunyi berirama.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Beberapa Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rebo Wekasan: Sejarah, Tujuan, Tradisi, hingga Mitos

Kamis, 15 September 2022 | 11:11 WIB

4 Keris Kuno yang Jadi Incaran Kolektor Benda Pusaka

Kamis, 15 September 2022 | 07:53 WIB
X