• Minggu, 3 Juli 2022

Jejak Dua Ulama Madura ini memiliki Karomah 'Syaikhona Kholil dan Syaikhona Yahya'

- Rabu, 9 Maret 2022 | 12:49 WIB
Syaikhona Kholil (Dok. galeri_maha)
Syaikhona Kholil (Dok. galeri_maha)

KETIKKNEWS.ID,-- Selain Syaikhona Kholil, di Bangkalan, Madura, juga terdapat kiai sezaman yang juga alim allamah, yaitu Syaikhona Yahya. Dua kiai ini sama-sama memiliki karomah. Keduanya juga menjadi pendidik dan menelurkan karya. Salah satu karya Syaikhona Yahya yang sampai saat ini tetap dikaji, terutama santri Madura, ialah Kitab Arkan.

KH Faraid, Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Yahya Kamal, mengatakan bahwa Syaikhona Kholil dan Syaikhona Yahya tidak memiliki hubungan famili. Tapi hidup sezaman dan seperjuangan. “Keduanya juga sering bepergian berdua,” katanya saat disowani di kediamannya di Bangkalan, Selasa (08/03/2022).

Baca Juga: Dubes Jepang Gandeng Nahdlatul Ulama PBNU Bahas Konflik Rusia - Ukraina

Bila hendak bepergian, Syaikhona Kholil selalau mengajak Syaikhona Yahya, begitu pula sebaliknya. Soal kealiman, Syaikhona Kholil mengaku kalah dengan Syaikhona Yahya. Hal itu pernah disampaikan kepada santri Kiai Yahya bernama Tabri. "Seandainya seluruh ilmu dan amalku ditukar dengan amal kiaimu, niscaya aku masih harus nambah,” cerita Kiai Faraid menirukan ucapan Syaikhona Kholil kepada Tabri.

Para penzirah (Dok.pwnujtim)

Kedua kiai kharismatik itu, lanjut Kiai Faraid, juga sama-sama memiliki karomah. Satu hari, papar cucu Syaikhona Yahya itu, ada seseorang terjatuh dari atas pohon kelapa dan mengalami patah tulang di bebebapa bagian tubuhnya. Dia kemudian dibawa ke kediaman Syaikhona Kholil untuk diobati.

Syaikhona Kholil lantas mengambil tongkat dan dipukulkan ke tubuh korban beberapa kali. "Kami (Syaikhona Kholil) bukan dukun,” kisah Kiai Faraid. Seketika itu korban bangkit dan berlari seperti orang ketakutan.

Baca Juga: Mengenal Syekh Subakir Ulama Persia Penyebar Agama Islam di Tanah jawa

Begitu pula dengan Syaikhona Yahya. Dahulu, tutur Kiai Faraid, setiap orang Madura berangkat dan pulang dari Arab saat melaksanakan ibadah haji, pasti mampi ke pesantren yang diasuh Syaikhona Yahya di Kamal. Satu hari, selesai shalat berjamaah, Syaikhona Yahya menyuruh santrinya menutup lubang-lubang di tembok masjid dengan karung gula. Santri menurut saja tanpa tahu apa tujuan perintah sang kiai.

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: NU

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:31 WIB

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB

Sejarah Ritual Ngalak Air Dalam Pemindahan IKN

Senin, 14 Maret 2022 | 11:08 WIB
X