• Jumat, 19 Agustus 2022

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

- Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB
Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m² (Dok.kemenparekraf)
Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m² (Dok.kemenparekraf)

Jika dicermati, bangunan Lawang Sewu menggunakan batu bata keramik berwarna oranye yang melambangkan sebuah kekayaan, kemakmuran, dan juga menunjukkan kasta tertinggi. Zaman dahulu, batu bata ini tergolong langka dan harga per-batanya pun sangat mahal.

“Zaman dulu satu batu bata ini ditaksir mencapai 300 ribu harganya. Dan yang unik, cetakannya ada yang melengkung," kata Aris.

Lawang Sewu merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada zaman kolonial Belanda (Dok.kemenparekraf)

"Dan salah satu alasan kenapa Lawang Sewu banyak pintu bukan hanya untuk membuat sirkulasi udaranya semakin bagus, tapi juga berkaitan dengan kasta, mereka (orang Belanda) sangat menjaga image, jadi kalau bangun ya nggak tanggung-tanggung,” katanya.

Baca Juga: Sejarah Ritual Ngalak Air Dalam Pemindahan IKN

Setelah mengalami pemugaran dan renovasi, kini Lawang Sewu difungsikan sebagai museum yang menyajikan ragam koleksi yang berhubungan dengan kereta api. Mulai dari seragam masinis, alat komunikasi (telepon kayu, telegraf), alat hitung friden, lemari karcis edmonson, karcis kereta kuno, mesin cetak tanggal untuk karcis kereta, dan lainnya.

Pertempuran Lima Hari

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang (Dok.kemenparekraf)

Seusai masa kolonial Belanda, Lawang Sewu berpindah tangan menjadi markas tentara Jepang sekaligus kantor transportasi Jepang bernama Riyuku Sokyoku pada tahun 1942.

Baca Juga: Sejarah Hari Musik Nasional 2022

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Kemenparekraf

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:31 WIB
X