• Minggu, 3 Juli 2022

Mengungkap Tujuh Muadzin di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

- Jumat, 8 April 2022 | 14:01 WIB
Mengungkap Tujuh muadzin di Masjid Agung Sang Cipta Rasa  (Dok.cirebon.viral)
Mengungkap Tujuh muadzin di Masjid Agung Sang Cipta Rasa (Dok.cirebon.viral)


KETIKNEWS.ID,-- Kesultanan Cirebon tidak lepas dari peninggalan Masjidnya yang beragam. Salah satunya Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang merupakan salah satu masjid tertua yang dimiliki Cirebon. Masjid yang berada di kompleks kesultanan Cirebon ini merupakan hasil pembangunan dari wali songo yang sampai sekarang masih berdiri kokoh sebagai masjid kebanggaan warga Cirebon.

Bagi yang suka melakukan wisata religi ke Cirebon pasti mengenal dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di Jalan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Cirebon. Masjid bersejarah ini menyimpan banyak keunikan yang tidak dimiliki di tempat lain.

Baca Juga: Apresiasi Mohammed Bin Zayed Kepada Presiden Indonesia, Memberikan Nama jalan dan Mesjid Joko Widodo

Masjid Cipta Rasa memiliki keunikan dari sisi tata cara peribadatannya, khususnya pada saat melaksanakan ibadah shalat Jumat. Jika umumnya di masjid-masjid lain azan Jumat dikumandangkan satu muadzin, di Masjid Cipta Rasa dikumandangkan oleh tujuh muadzin, atau lebih dikenal dengan tradisi azan pitu. Mungkin sebagian masyarakat ada yang belum tahu mengapa azan shalat Jumat di Masjid Cipta Rasa dikumandangkan oleh tujuh orang.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (Dok.cirebon.viral)

Menurut sejarawan Cirebon, Raffan A Hasyim, asal muasal azan seperti itu dimulai sejak zaman Sunan Gunung Jati. Pada suatu ketika, ada wabah penyakit yang parah menjangkiti masyarakat dan sukar obatnya. Konon, penyakit itu dibawa seorang satria yang tidak terima agama Islam berkembang di Cirebon.

Baca Juga: Dibalik Wajah Baru Alun Alun Sangkala Buana Cirebon, Tersimpan Hukum Cambuk

Dia bernama Megananda. Megananda memiliki aji sirep menjangan wulung. Dia bertapa di atas memolo masjid. Kemudian dari dalam tubuhnya keluar hawa panas yg menyebabkan jamaah masjid banyak yang wafat.

Para wali kemudian bermusyawarah untuk mengatasi masalah ini. Brdasarkan ilham yang didapat mereka, diadakan tahlil semalam suntuk smpai subuh. ketika waktu subuh datang, 7 orang wali melakukan azan bersama-sama.

Baca Juga: Dibalik Ritual Panjang Jimat, Tradisi Tahunan Keraton Cirebon

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Beberapa Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudera Pasai

Jumat, 1 Juli 2022 | 13:31 WIB

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

Kamis, 31 Maret 2022 | 15:05 WIB

Sejarah Ritual Ngalak Air Dalam Pemindahan IKN

Senin, 14 Maret 2022 | 11:08 WIB
X