• Sabtu, 25 Juni 2022

Meriah Hari Lebaran Dalam Grebeg Syawal Historis Daerah Istimewa Yogyakarta

- Kamis, 28 April 2022 | 12:59 WIB
Meriah Hari Lebaran Dalam Grebeg Syawal (Dok.menpan)
Meriah Hari Lebaran Dalam Grebeg Syawal (Dok.menpan)

KETIKNEWS.ID,-- Tujuh gunungan berisi hasil bumi dikawal pasukan berkuda di depan Keraton Yogyakarta pada Hari Raya Idulfitri. Tradisi turun temurun ini adalah wujud syukur 'ngarso dalem' berakhirnya masa puasa di bulan Ramadan. Tradisi yang dinamakan Grebeg Syawal menjadi bagian dari nilai historis Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap tahun, pada 1 Syawal atau bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri, tradisi tersebut digelar berupa upacara adat di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gunungan ini dilepas melalui prosesi iring-iringan prajurit kraton yang menjadi daya tarik tersendiri. Tradisi ini juga telah berlangsung selama ratusan tahun. Sebelum diberikan kepada rakyat, gunungan tersebut diarak terlebih dahulu mulai dari Pagelaran Keraton Yogyakarta menuju halaman Masjid Agung (Masjid Gedhe) di Kauman yang berjarak kurang lebih 1 km. Di masjid ini, Kyai Penghulu diikuti para ulama keraton beserta para abdi dalem akan memanjatkan doa-doa kebaikan, kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan serta keselamatan bagi keluarga sultan beserta rakyatnya dan nusa bangsa pada umumnya.

Baca Juga: 10 Pantun Lebaran 2022 yang Cocok untuk Dijadikan Status

Prosesi keluarnya gunungan dalem baru dimulai pukul 10.00 WIB, usai salat Ied. Ribuan orang sudah berduyun-duyun mendatangi Alun-alun Utara, tempat berlangsungnya upacara grebeg gunungan.

Usai berdoa, gunungan kemudian dilepas untuk diperebutkan oleh masyarakat. Inilah bagian yang menarik turis dan dianggap paling 'seru'. Masyarakat berjibaku mendapat bagian hubungan sebanyak mungkin. Namun, pada hakikatnya, bukan seberapa banyak makanan yang diperebutkan, tapi keberkahan serta manfaat dari hasil bumi itu. Itulah grebeg. Sebuah akulturasi budaya dan tradisi para leluhur yang masih dijaga kelestariannya oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga kini.

Baca Juga: Tradisi Tujuh Likur dan Pintu Gerbang Lingga

Pengageng Kawedanan Pengulon, KRT Akhmad Mukhsin Kamaludin Ningrat, mengatakan, tradisi ini merupakan wujud syukur dan sedekah dalam bentuk hasil pertanian. Tradisi grebeg ini adalah simbol hajat dalem yang bermakna sebuah bentuk kedermawanan sultan kepada rakyatnya. Pada hari-hari grebeg itu, Sultan berkenan memberikan sedekah berupa makanan dan berbagai hasil bumi lainnya yang disusun tinggi seperti gunung.

"Yang memang berkah itu sesuatu yang sudah didoakan itu insya Allah mempunyai nilai lebih. Tapi kalau makanan sudah di doain, manfaatnya jauh lebih besar insya Allah, harapan kita seperti itu," ujar KRT Akhmad Mukhsin, seperti dilansir krjogja.com.

Baca Juga: Asal-usul dan Sejarah Mudik, Tradisi Rutinan Masyarakat Indonesia Saat Lebaran Idul Fitri

Halaman:

Editor: Lucky Edwar

Sumber: Menpan RB

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tradisi Tujuh Likur dan Pintu Gerbang Lingga

Rabu, 27 April 2022 | 13:35 WIB

Pekan Seni dan Budaya Korea Bersama LRT Jakarta

Rabu, 27 April 2022 | 10:09 WIB

‘NyakSeni Santri’, Program Lesbumi Jabar

Senin, 18 April 2022 | 16:01 WIB

Dana Indonesiana Untuk Berkarya dan Berbudaya `

Jumat, 8 April 2022 | 11:46 WIB

Menko PMK Dukung Reog Ponorogo Diusulkan ke UNESCO

Selasa, 5 April 2022 | 09:17 WIB
X