• Selasa, 16 Agustus 2022

Mengenal Nyoman Nuarta dan Kisah Pembuatan Patung GWK

- Kamis, 18 Maret 2021 | 15:32 WIB
ilustasi - Nyoman Nuarta.* (source: Doc. Ig @nyomannuarta)
ilustasi - Nyoman Nuarta.* (source: Doc. Ig @nyomannuarta)

18NEWS.ID,-- Seni patung merupakan hasil ekspresi jiwa manusia dengan mambuat bentuk visual melalui media tiga dimensi yang bertujuan sebagai keindahan. Seni patung dapat dengan mudah ditemui bahkan di jalan-jalan. Biasanya dibangun sebagai bentuk monumen atau pengingat jasa atas peristiwa yang pernah terjadi.
Tapi kalian tahu tidak sih siapa saja tokoh seni patung yang sudah banyak menciptakan karyanya di negeri ini? Nah, kali ini kita akan membahas mengenai seniman patung Nyoman Nuarta.
Nyoman Nuarta
Seniman Bali satu ini lahir di Tabanan pada 14 November 1951. Pria ini terkenal karena karyananya yang mendunia yaitu Garuda Wisnu Kencana (GWK), Monumen Jalesveva Jayamahe serta Monumen Proklamasi Indonesia. Nyoman dibesarkan di sebuah keluarga berlatar belakang pengusaha yang terbilang cukup berhasil. Nyoman Nuarta putra keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan Wirjamidjana dan Samudra. Nyoman Nuarta tumbuh dalam didikan pamannya, Ketut Dharma Susila, seorang guru seni rupa.
Kemudian dalam rangka mengasah bakatnya di bidang seni, Nyoman menempuh studi jurusan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1972. Dan semenjak itulah kiprahnya di dunia seni dimulai. Pada mulanya, pria kelahiran Tabanan ini lebih memiliki ketertarikan pada seni lukis, namun, semenjak ia mengikuti kuliah di jurusan seni patung, pada akhirnya Nyoman menyadari bahwa passion serta bakatnya berada di dunia seni patung. Awal titik balik hidupnya adalah saat ia mengikuti lomba desain patung proklamator Indonesia.
Sejak tenar, Nyoman Nuarta yang merupakan alumni ITB tahun 1979 telah menghasilkan lebih dari seratus karya seni patung. Semua karyanya menggambarkan seni patung modern sampai gaya naturalistik, dan material yang digunakan dalam padatan patungnya adalah dari tembaga dan kuningan.
Bakat Nyoman Nuarta di bidang seni diturunkan pada putrinya. Putri sulungnya, Tania belajar di jurusan seni rupa di salah satu Perguruan Tinggi di Australia, sedangkan adiknya Tasya membantu Nuarta di studionya.
Sebagai seorang pematung, Nuarta telah membangun sebuah Taman Patung yang diberi nama nuart Sculpture Park. Nuarta membangun taman ini di kelurahan Sarijadi bandung. Puluhan beraneka bentuk patung dalam beraneka ukuran tersebar di areal seluas tiga hektare tersebut. Di taman tersebut dibangun gedung 4 lantai yang digunakan untuk pameran dan ruang pertemuan dengan gaya yang artistik. Saat ini, Nyoman Nuarta merupakan pemilik dari Studio nyoman nuart, Pendiri Yayasan Mandala Garuda Wisnu Kencana, Komisioner PT Garuda adhimata, Pengembang Proyek Mandala Garuda wisnu kencana di Bali,Nyoman Nuarta juga tergabung dalam organisasi seni patung internasional, seperti International Sculpture Center Washington (Washington, Amerika

Cerita Di balik Mahakarya Patung Garuda Wisnu Kencana
Alumni Seni Rupa ITB ini bercerita, pembuatan patung GWK di Ungasan, Jimbaran, Bali, sangat penuh perjuangan dan tantangan.
Pembuatannya dimulai pada 1990 dan sempat terhenti pada 1998 karena krisis moneter yang melanda Indonesia. Patung tersebut akhirnya selesai dibuat dan telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 September 2018.
Patung GWK memiliki tinggi 121 meter. Karena ukurannya yang raksasa, pembuatannya dilakukan dengan cara dibagi ke dalam 754 modul. Proses pengerjaan dibuat dengan modul per modul agar bisa dilakukan dengan cepat. Satu modul memiliki berat sekitar 2 ton.
Modul-modul tersebut dibawa dari Bandung ke Bali menggunakan 500 truk tronton. Bahan kulit patung terbuat dari tembaga yang dilapisi kunigan supaya lebih tahan terhadap panas dan terpaan angin.
Di hadapan ratusan mahasiswa yang menghadiri kuliah umum tersebut, bagi Nyoman patung GWK adalah karya seni yang menjadi identitas bangsa. Melalui patung yang memiliki berat hampir 3.000 ton itu, ia ingin mewujudkan bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, kita bisa menciptakan sesuatu karya seni yang diakui dunia.
Pembuatan patung tak semudah yang dibayangkan. Rintangan yang dihadapi banyak yang mengkritik, tidak setuju ngapain bikin patung," katanya. Belum lagi perhitungan pengaruh alam seperti terpaan angin, gempa bumi, dan faktor alam lainnya.

-

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Doc. Ig@Aldochindriyano 

Kita perkuat dengan kuningan karena tembaga mudah bergerak di atas suhu 60 derajat saja, kalau kuningan titik lelehnya di atas 1000," ucap Nyoman yang berbagi cerita di Studium Generale KU- 4078 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Rabu (21/11/2018), seperti dikutip dari siaran pers ITB. "Jadi GWK ini secara sains bisa dipertanggungjawabkan. Karena yang namanya pariwisata modern tidak terlepas dari incurance
ia menginginkan masyarakat Indonesia terbuka pikirannya bahwa dengan seni dan kebudayaan akan menghasilkan dampak ekonomi yang besar untuk warga sekitar.
Itulah cita-cita yang dibayangkan Nyoman, sehingga patung GWK harus direalisasikan. Jangan mudah putus asa. Belajar yang giat karena sekarang fasilitas sudah sangat mendukung untuk kegiatan belajar Patung-patung yang telah ia buat banyak menjadi ikon sebuah daerah, sebut saja Patung Presiden Soekarno di Monumen Proklamasi di Jakarta, Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya, dan lainnya.
Nyoman juga tercatat sebagai pelopor gerakan seni rupa baru tahun 1976. Sebuah gerakan yang membebaskan ekspresi dan bentuk karya para seniman. (Iman Herdiana)
Garuda Wisnu Kencana sekarang menjadi salah satu tempat wisata terkenal di Bali. Saking terkenalnya objek wisata Garuda Wisnu Kencana Bali, hampir setiap hari tempat wisata GWK Bali, selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik dan wisatawan asing. Banyak wisatawan mengatakan, objek wisata Garuda Wisnu Kencana salah satu objek wisata yg harus dikunjungi.*

Editor: Mohammad Aziz Pratomo

Terkini

Anthoni Salim Bos Indofood Bisnisnya Merajai Dunia

Kamis, 17 Maret 2022 | 15:32 WIB
X